Sebagai mobil yang menjadi benchmark para pengguna double cabin untuk kepentingan pertambangan dan kerja rodi lainnya di Indonesia, Mitsubishi nyata-nyata berbangga karena miliki Triton. Semenjak th. 2002, ia merupakan mobil pekerja yang dapat menjaga image tangguh merek berlogo tiga berlian ini. Selain untuk profesi tambang, ada segelintir orang yang tertarik memakai double cabin ini untuk kepentingan hobi atau penerapan di dalam kota.
Akan namun, pasar double cabin Triton kini tak sepi pesaing. Sebut saja Toyota Hilux, Nissan Navara, Mazda BT-50, Isuzu D-Max dan Ford Ranger yang udah bertahun-tahun berupaya menendang Triton dari singgasananya. Untuk itu, Triton pun bebenah, perumpamaan baru udah menjadi dan ia kini siap bercengkrama dengan bumi Indonesia.
Sama seperti Triton spek Malaysia, mesin turbo diesel 2.500 cc DI-D commonrail masih menjadi andalan. Mesin berkode 4D56 ini miliki sebagian pilihan output, merupakan 110PS/20,4 kg.m (HDX), 136 PS/33,1 kg.m (GLS) dan 178 PS/40,8 kg.m (Exceed). Versi Exceed dapat menjadi yang paling bertenaga karena ada revisi di metode Variable Geometry Turbo (VGT)-nya, pas versi GLS tak memanfaatkan teknologi VGT. Khusus Exceed matik, ada penyempurnaan di grafik torsi sehingga kesanggupan off road-nya dapat menyamai Exceed manual.
Mitsubishi pun berkeinginan menjawab mengapa mesin 2.400 cc DI-D commonrail VGT baru yang ada di spek Thailand tak menjadi jantung Triton baru di Indonesia. Karena pasar terbesar Triton datang dari sektor fleet di mana mereka udah yakin dengan daya kerja mesin lawasnya, mereka tetap memakai mesin lama dengan penyempurnaan di anggota ini-itu, karena tak hanya kehandalannya udah terbukti, suku cadangnya terhitung mudah diperoleh seandainya berjalan apa-apa.
Di samping mesin Triton, ada revisi pada suspensi. Suspensi depan kini ukurannya lebih besar sehingga lebih bendung banting, seperti itu pula dengan per daun di belakang yang kekuatannya dinaikkan. Body mounting rubber-nya pun membesar 119% dibanding yang lama. Kami udah merasakannya pas pereli kebanggaan kita, Rizal Sungkar memacu mobil ini di trek reli yang udah disiapkan dan kita nebeng di daerah duduk penumpang depan. Laju dan pengaturannya tak serasa membawa Triton, rasanya beliau seperti menyetir Lancer Evolution RS saja. Ah, rasanya belum afdol seandainya kita tak mencobanya sendiri, semoga kita dapat membuat video resumenya.
Kami rasa Triton merupakan double cabin yang terlampau menjajakan daya bendung sebagai ujung tombaknya, karena Mitsubishi lebih banyak bermain di balik kap mesin dan konstruksinya. Meski seperti itu, menu pemanja ala passanger car pada lazimnya terhitung tak dapat dibilang remeh, karena dengan hadirnya dual airbags, ABS+EBD, head unit dengan bermacam konektivitas, jok kulit, kepraktisan lumayan dan AC otomatis di jenis Exceed, memakai Triton sebagai mobil harian tak dapat membangkitkan persoalan artinya soal kenyamanan dan perlengkapan.