Sebagai kendaraan beroda empat yang jadi benchmark para pengguna double cabin untuk keperluan pertambangan dan kerja rodi lainnya di Indonesia, Mitsubishi benar-benar berbangga gara-gara membawa Triton. Semenjak tahun 2002, dia yakni kendaraan beroda empat pekerja yang mampu menjaga image tangguh brand berlogo tiga berlian ini. Kecuali untuk profesi tambang, ada segelintir orang yang tertarik mengaplikasikan double cabin ini untuk keperluan hobi atau penggunaan didalam kota.
Akan tapi, pasar double cabin kini tak sepi pesaing. Sebut saja Toyota Hilux, Nissan Navara, Mazda BT-50, Isuzu D-Max dan Ford Ranger yang udah bertahun-tahun mengusahakan menendang Triton dari singgasananya. Untuk itu, Triton pun beberes, tipe baru udah jadi dan dia kini siap bercengkrama bersama dengan bumi Indonesia.
Bukalah pintu baris depannya, kita akan menemukan desain interior baru bersama dengan aura yang mengarah ke gaya simple dan tak banyak tarikan garis yang kompleks. Sekadar info, desain dashboard-nya akan 80% serupa bersama dengan All New Mitsubishi Pajero Sport yang belum lama diluncurkan di Thailand, namun ada perbedaan di desain setir, doortrim dan sebagian mendetail lainnya.
Bicara material, kita tak akan berkeinginan menemukan material premium nan lembut, gara-gara ini kan double cabin, jadi mestinya tough. Benar sih, material dashboard-nya tetap mengaplikasikan bahan plastik, namun kala diteliti, ini tak terlihat murahan gara-gara terkesan tidak tipis dan rigid. Bahan pelapis joknya berbeda-beda, yakni bahan vinyl untuk macam HDX, fabric untuk GLS dan kulit untuk Exceed. Nah, yang anda melihat ini interior macam Exceed, dia punya jok kulit bersama dengan tulisan Triton terlihat di sandarannya.
Mengamati area setirnya saja, kita udah ngeh terkecuali ada banyak sunatan fitur yang dilaksanakan, pun untuk macam termahal. Setir yang desainnya serupa bersama dengan Mitsubishi Mirage ini benar-benar polos tanpa tombol lain terkecuali klakson, meski di luar sana setir ini ramai bersama dengan tombol pengontrol audio dan cruise control. Yah, setidaknya tetap ada dual airbags untuk segala varian.
Lihat lebih lanjut ke area kanan setir, ada tombol-tombol untuk halangi spion elektrik, namun sudah, hanya itu saja. Banyak sekali slot tombol yang sirna, utamanya tombol start-stop engine dan peranti keselamatan aktif elektronik layaknya stability control. Panel instrumennya sederhana, namun lengkap bersama dengan MID yang mampu menampilkan berjenis-jenis keterangan seputar kendaraan. Kini, setir Triton mampu disetel naik-turun dan maju-mundur, jadi benar-benar fleksibel.
Kita tak akan beroleh head unit bersama dengan layar monitor, GPS, kamera parkir dan sebagian fasilitas lain layaknya biasanya passanger car, namun head unit double din JVC. Walaupun begitu, apa yang dibawanya tak mampu dibilang kosongan. Sebut saja konektivitas iPod, USB, AUX dan Bluetooth supaya mampu dihubungkan bersama dengan hand phone anda, baik untuk memainkan musik atau mengerjakan fungsi telepon.
Di komponen bawah head unit, ada panel AC digital dan udah punya mode auto climate control. Kami puas bersama dengan glovebox Triton Exceed gara-gara membawa mekanisme bukaan yang serupa bersama dengan Outlander Sport. Ketika dibuka, dia jatuh pelan supaya terkesan mewah, bukannya langsung terjatuh dan tak mampu bangkit lagi. Kapasitasnya pun lumayan, cukuplah untuk menaruh barang-barang layaknya tablet PC atau perihal lainnya.
Zona tuas transmisi matik pada Triton dilabur warna piano black yang mewah, dan dia udah punya mode manual 5 percepatan. Kepraktisannya boleh termasuk untuk sebuah double cabin, ada area penyimpanan untuk hand phone di depan tuas transmisi, area kacamata di atap dan 2 buah cup holder di dekat rem tangan. Di belakang tuas transmisi, ada selektor 4WD tipe putar.
Tak hanya glovebox-nya, center console box pada Triton termasuk benar-benar baik. Penutupnya tidak tipis dan rigid, tak gampang jatuh pun kala posisinya miring. Tak Outlander Sport, dia punya storage berlapis, di mana lapisan atas memadai membuat menaruh HP dan lapisan yang lebih didalam mampu membuat menaruh barang lain. Sayangnya, dia tak mampu dijadikan armrest bagi pengemudi gara-gara formatnya kurang panjang dan tinggi, supaya tak begitu mensupport bersama dengan baik.
Posisi mengemudi Triton memadai pas bagi umumnya orang Indonesia. Apabila ada jok elektrik memang, namun penguasaan jok pengemudi udah mencukupi standar bersama dengan adanya fungsi sliding, reclining dan height adjuster. Seatbelt-nya pun udah lengkap bersama dengan height adjuster. Untuk itu, kita acungkan 2 jempol bagi Triton didalam perihal fleksibilitas bagi kenyamanan pengemudi gara-gara dia membawa penguasaan jok, setir dan sabuk pengaman yang lengkap.
Saatnya rubah ke kabin belakang. Duduk di kabin belakang Triton sebenarnya memadai nyaman. Sandaran joknya sebenarnya tak mampu serebah sedan, hatchback atau MPV, namun terkecuali dibandingkan double cabin lainnya, dia memadai oke gara-gara posisinya tak benar-benar tegak. Apabila jok depan disetel benar-benar mundur, penumpang setinggi 175 cm tak akan punya legroom serupa sekali, namun terkecuali jok depan didalam posisi normal, legroom dan headroom penumpang belakang tetap tergolong sip.
Kami tak berikan masukan kabin belakangnya untuk diisi lebih dari 2 orang dewasa, gara-gara headrest-nya hanya ada 2. Kepraktisan kabin belakang hanya diwakili oleh armrest tengah yang ditambah cup holder dan kantong pada sandaran jok depan, terkecuali itu tak ada lagi. Apabila kita terhubung sandaran jok belakang, terlihat area penyimpanan rahasia untuk menaruh dongkrak atau peralatan darurat lainnya.