Review All New Mitsubishi Triton Seri 2015

Sebagai mobil yang jadi benchmark para pengguna double cabin untuk keperluan pertambangan dan kerja rodi lainnya di Indonesia, Mitsubishi benar-benar berbangga gara-gara punyai Triton. Semenjak tahun 2002, ia merupakan mobil pekerja yang bisa menjaga image tangguh merk berlogo tiga berlian ini. Selain untuk profesi tambang, ada segelintir orang yang tertarik Mengenakan double cabin ini untuk keperluan hobi atau penerapan di dalam kota.

Akan namun, pasar double cabin Triton kini tak sepi pesaing. Sebut saja Toyota Hilux, Nissan Navara, Mazda BT-50, Isuzu D-Max dan Ford Ranger yang udah bertahun-tahun mengusahakan menendang Triton dari singgasananya. Untuk itu, Triton pun bebenah, perumpamaan baru udah jadi dan ia kini siap bercengkrama dengan bumi Indonesia.

Sama layaknya Triton spek Malaysia, mesin turbo diesel 2.500 cc DI-D commonrail masih jadi andalan. Mesin berkode 4D56 ini punyai lebih dari satu pilihan output, merupakan 110PS/20,4 kg.m (HDX), 136 PS/33,1 kg.m (GLS) dan 178 PS/40,8 kg.m (Exceed). Versi Exceed bisa jadi yang paling bertenaga gara-gara ada revisi di metode Variable Geometry Turbo (VGT)-nya, kala versi GLS tak mengfungsikan teknologi VGT. Khusus Exceed matik, ada penyempurnaan di grafik torsi sehingga kesanggupan off road-nya bisa menyamai Exceed manual.

Mitsubishi pun berkeinginan menjawab mengapa mesin 2.400 cc DI-D commonrail VGT baru yang ada di spek Thailand tak jadi jantung Triton baru di Indonesia. Karena pasar terbesar Triton singgah dari sektor fleet di mana mereka udah yakin dengan kekuatan kerja mesin lawasnya, mereka tetap Mengenakan mesin lama dengan penyempurnaan di anggota ini-itu, gara-gara selain kehandalannya udah terbukti, suku cadangnya termasuk ringan diperoleh kalau berlangsung apa-apa.

Di samping mesin Triton, ada revisi terhadap suspensi. Suspensi depan kini ukurannya lebih besar sehingga lebih bendung banting, layaknya itu pula dengan per daun di belakang yang kekuatannya dinaikkan. Body mounting rubber-nya pun membesar 119% dibanding yang lama. Kami udah merasakannya kala pereli kebanggaan kita, Rizal Sungkar memacu mobil ini di trek reli yang udah disiapkan dan kami nebeng di area duduk penumpang depan. Laju dan pengaturannya tak serasa mempunyai Triton, rasanya beliau layaknya menyetir Lancer Evolution RS saja. Ah, rasanya belum afdol kalau kami tak mencobanya sendiri, semoga kami bisa membawa dampak video resumenya.

Kami rasa Triton merupakan double cabin yang terlampau menjajakan kekuatan bendung sebagai ujung tombaknya, gara-gara Mitsubishi lebih banyak bermain di balik kap mesin dan konstruksinya. Meski layaknya itu, menu pemanja ala passanger car terhadap lazimnya termasuk tak bisa dibilang remeh, gara-gara dengan hadirnya dual airbags, ABS+EBD, head unit dengan beragam konektivitas, jok kulit, kepraktisan lumayan dan AC otomatis di style Exceed, Mengenakan Triton sebagai mobil harian tak dapat membangkitkan persoalan artinya soal kenyamanan dan perlengkapan.

Leave a comment